DENPASAR — Perkumpulan Bengkel Mobil Bali (PBMB) genap berusia 16 tahun pada 2026. Organisasi yang berdiri sejak 2010 di Denpasar, Bali ini kini menaungi sekitar 180 bengkel anggota di delapan kabupaten/kota. Dalam perayaan HUT yang digelar di Wantilan Desa Budaya Kertalangu, Minggu (26/7/2026), PBMB mengangkat tema “Bersatu, Berkarya dan Berkualitas, serta Bermanfaat, Inovatif, Semangat dan Aktif”.
Acara dihadiri Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Demokrat yang juga Penasehat PBMB, Tutik Kusuma Wardhani, SE., MM., M.Kes. Dalam sambutannya, politikus asal Buleleng ini menekankan pentingnya transparansi dan integritas dalam mengelola organisasi.
Di usia yang semakin matang, PBMB menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Dari kesulitan merekrut mekanik hingga komitmen pada layanan sosial, organisasi ini terus berupaya menyejahterakan anggotanya sambil menjaga standar pelayanan bagi masyarakat Bali.
Dari Wadah Silaturahmi Menjadi Tulang Punggung UKM Otomotif Bali
PBMB bermula sebagai wadah resmi pengusaha bengkel mobil di Bali pada 2010. Enam belas tahun kemudian, organisasi ini telah berkembang signifikan dengan sekitar 180 anggota yang tersebar di delapan kabupaten/kota. Fokus utamanya tetap sama: memperjuangkan kesetaraan dan kemandirian pelaku usaha kecil dan menengah di bidang jasa perbaikan mobil dalam semangat kekeluargaan.
Keberhasilan PBMB tidak lepas dari perannya sebagai pusat pertukaran informasi teknis. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi otomotif, forum ini memungkinkan para anggota saling berbagi pengetahuan sehingga penanganan kendaraan bermasalah bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
Posko Darurat hingga Servis Gratis Saat Upacara Besar
Salah satu wujud kontribusi sosial PBMB yang paling terlihat adalah pendirian posko pelayanan darurat. Saat upacara besar seperti Karya Ida Betara Turun Kabeh di Pura Besakih, anggota PBMB siaga memberikan servis gratis bagi kendaraan warga atau pemedek yang mengalami kendala mesin.
Kehadiran posko-posko ini bukan sekadar bantuan teknis, melainkan bentuk pengabdian organisasi terhadap kelancaran aktivitas keagamaan di Bali. Para mekanik rela mengorbankan waktu untuk memastikan kendaraan umat Hindu tidak menjadi hambatan dalam menjalankan ibadah.
Krisis Mekanik dan Seruan Kolaborasi dengan Pemerintah
Ketua Umum PBMB Made Sujana menyoroti masalah krusial yang dihadapi anggotanya: kesulitan mendapatkan tenaga mekanik berkualitas. Ia mengaku banyak lulusan SMK otomotif lebih memilih bekerja di sektor pariwisata ketimbang bergabung dengan bengkel anggota PBMB.
“Kami berharap pemerintah bisa membantu dalam merekrut tenaga mekanik. Terutama lulusan SMK otomotif, kami harapkan bisa bekerja di bengkel anggota PBMB,” ujar Sujana.
Menurutnya, prospek karier di bidang otomotif sebenarnya sangat menjanjikan, terutama bagi mereka yang ingin membuka usaha mandiri di masa depan. Ia mengajak para lulusan SMK otomotif untuk mempertimbangkan bergabung dengan bengkel-bengkel under PBMB sebagai langkah awal berkarier.
Standar Pelayanan, Persatuan, dan Kesejahteraan Anggota
Tutik Kusuma Wardhani dalam sambutannya mengingatkan bahwa di usia ke-16 yang memasuki fase dewasa, PBMB harus mampu menjaga persatuan dan persaudaraan antaranggota. Menurutnya, solidaritas ini menjadi kunci kemajuan organisasi dan kesejahteraan bersama.
“Saya juga berharap, dalam menjalankan tugasnya agar dilakukan dengan jujur dan transparan. Sehingga, masyarakat bisa menilai dengan baik atas kinerja dari PBMB,” tegas Tutik.
Ia juga menanggapi aspirasi PBMB di bidang kesehatan dengan mengimbau seluruh anggota untuk senantiasa menjaga pola hidup sehat. Sementara itu, sesuai moto “Bisa”, PBMB berkomitmen terus meningkatkan standar pelayanan kepada pelanggan, menciptakan ciri khas yang membedakan bengkel anggotanya dari kompetitor.
Ke depan, organisasi ini akan terus memotivasi pelaku UKM bengkel mobil yang belum tergabung untuk bergabung, memperkuat posisi tawar dan kapasitas kolektif bengkel lokal Bali di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat.











