<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>timor tengah selatan &#8211; Berbagi Informasi Yang Sehat</title>
	<atom:link href="https://berbagisehat.com/tag/timor-tengah-selatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://berbagisehat.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Jul 2026 22:05:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://berbagisehat.com/wp-content/uploads/2026/07/Berbagi-150x150.png</url>
	<title>timor tengah selatan &#8211; Berbagi Informasi Yang Sehat</title>
	<link>https://berbagisehat.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dugaan Penyimpangan Bantuan Benih Lele di TTS: Anggaran Rp500 Juta, Spesifikasi Tidak Sesuai, Petani Rugi</title>
		<link>https://berbagisehat.com/dugaan-penyimpangan-bantuan-benih-lele-di-tts-anggaran-rp500-juta-spesifikasi-tidak-sesuai-petani-rugi/</link>
					<comments>https://berbagisehat.com/dugaan-penyimpangan-bantuan-benih-lele-di-tts-anggaran-rp500-juta-spesifikasi-tidak-sesuai-petani-rugi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gunawan Arifin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2026 22:05:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum & Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[timor tengah selatan]]></category>
		<category><![CDATA[tts]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://berbagisehat.com/?p=728</guid>

					<description><![CDATA[TIMOR TENGAH SELATAN – Sebuah program bantuan benih ikan lele yang bersumber dari Dana Pokok Pikiran (Pokir) DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Tahun Anggaran 2025 kini tengah menjadi sorotan publik. Program dengan anggaran lebih dari Rp500 juta ini diduga kuat mengalami penyimpangan, setelah investigasi lapangan mengungkap adanya ketidaksesuaian antara spesifikasi benih yang seharusnya diterima]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>TIMOR TENGAH SELATAN</strong> – Sebuah program bantuan benih ikan lele yang bersumber dari Dana Pokok Pikiran (Pokir) DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Tahun Anggaran 2025 kini tengah menjadi sorotan publik. Program dengan anggaran lebih dari Rp500 juta ini diduga kuat mengalami penyimpangan, setelah investigasi lapangan mengungkap adanya ketidaksesuaian antara spesifikasi benih yang seharusnya diterima masyarakat dengan kenyataan di lapangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Temuan tersebut bukan sekadar persoalan teknis biasa, melainkan berpotensi mengarah pada dugaan penyimpangan dalam pengadaan barang pemerintah yang patut mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum. Masyarakat penerima bantuan mengaku mengalami kerugian akibat tingginya angka kematian benih yang diterima.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peraturan Daerah yang menjadi acuan pengadaan menetapkan bahwa benih ikan lele yang disalurkan harus memiliki ukuran sekitar 7,9 sentimeter dengan harga Rp3.000 per ekor. Namun, fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang sangat berbeda, di mana benih yang diterima masyarakat jauh di bawah standar yang ditetapkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Spesifikasi Benih Tidak Sesuai</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pada sejumlah kelompok penerima yang didatangi langsung, ukuran benih yang diterima rata-rata hanya berkisar 3,5 sentimeter hingga 5,7 sentimeter — jauh di bawah spesifikasi 7,9 sentimeter yang ditetapkan. Kondisi tersebut diduga kuat menyebabkan tingkat kematian benih sangat tinggi, mengingat ukuran dan umur ikan yang belum layak untuk dipindahkan maupun dibudidayakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila temuan ini benar, maka muncul pertanyaan besar: apakah negara telah membayar benih sesuai spesifikasi, tetapi masyarakat menerima barang yang kualitasnya lebih rendah? Jika demikian, dugaan kerugian negara perlu dihitung secara menyeluruh oleh aparat yang berwenang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesaksian Petani: &#8220;Benih Kebanyakan Mati, Janji Pengganti Tak Pernah Terealisasi&#8221;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Salah seorang penerima bantuan di Desa Nusa, Kecamatan Amanuban Barat, Yordandina Laisnima, mengaku kecewa karena sebagian besar benih yang diterimanya mati beberapa hari setelah ditebar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kami dapat waktu itu 3.000 ekor, tapi ikan dong kecil-kecil saja pak. Jadi yang mati juga terlalu banyak. Saya pakai serok angkat yang mati lalu taruh di pinggir kolam supaya petugas datang lihat sendiri. Waktu itu Pak Benu juga lewat sini dan kami sudah kasih tahu. Beliau janji nanti ganti yang mati, tapi sampai sekarang belum pernah diganti,&#8221; ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Yordandina Laisnima, ikan yang masih hidup akhirnya dipelihara hingga sebagian dikonsumsi keluarga, sementara sebagian lainnya dijual kepada masyarakat yang datang membeli.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Selain Benih Mati, Pemasaran Juga Jadi Kendala</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pemasaran juga menjadi persoalan tersendiri bagi para penerima bantuan. &#8220;Kami kesulitan cari pembeli. Saya sampai buat papan informasi di pinggir jalan supaya orang tahu ada ikan lele dijual di sini. Ada yang singgah dan beli, tapi memang pembelinya tidak banyak,&#8221; katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keterangan tersebut memperkuat dugaan bahwa persoalan bantuan ini tidak berhenti pada tingginya angka kematian benih, tetapi juga berdampak terhadap tujuan utama program pemberdayaan masyarakat. Program yang seharusnya meningkatkan ekonomi warga justru berpotensi menambah beban akibat kerugian yang dialami.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://berbagisehat.com/dugaan-penyimpangan-bantuan-benih-lele-di-tts-anggaran-rp500-juta-spesifikasi-tidak-sesuai-petani-rugi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
